Minggu, 22 Maret 2009

Berbicara tentang Normal dan Tak Normal

“Selamat bayi anda laki-laki, sehat, dan normal!” begitulah ungkapan simpati dari pihak Rumah Sakit atau klinik pada ayah si bayi yang baru lahir. Tentu itu bukanlah hal yang baru. Ungkapan itu seperti sudah menjadi keharusan dan kebiasaan. Dan, kita yang mendengarnya pun sudah biasa.

“Saya ingin dia seperti anak-anak normal lainnya!” ungkap seorang Ibu pada dokter yang merawat anaknya yang dinyatakan autis. Ungkapan yang berisi harapan dan doa-doa (pastinya). Lagi-lagi hal itu pun sudah sering kita dengar. Dan, lagi-lagi juga bukanlah hal yang baru.

Normal dan tak normal. Sekilas seperti kata berantonim biasanya. Seperti halnya cantik dan jelek. Bersih dan kotor. Panjang dan pendek. Jauh dan dekat. Banyak dan sedikit. Dan masih banyak lagi. Tapi, efek yang dibawa dari kata ‘normal’ dan ‘tak normal’ itu tak seperti kata berantonim yang lain.

Normal dalam KBBI dikatakan: (1)menurut aturan/ menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan. (2)bebas dari gangguan jiwa.
Dapat kita lihat yang dikatakan normal adalah sesuatu yang sudah biasa didengar, dilihat, dan dirasakan. Berbeda saja sedikit hal dari sesuatu yang lumrah, cap atau label ‘tak normal’ akan menempel. Apakah bayi yang lahir, misalnya seperti Benjamin Button dalam film The Curious Case of Benjamin Button adalah bayi ‘tak normal’? apakah harus cap ‘tak normal’ melekat pada diri seseorang sejak bayi? Dan, apa hal yang membuat seseorang menjadi ‘tak normal’? apakah hanyalah karena berbeda dari yang biasanya?

Lalu, apakah anak autis tidak normal? Mengapa dia mesti dikatakan ‘tak normal’ hanya karena perbedaannya dengan anak-anak lainnya? Bukankah normal dan tak normal hanyalah stempel yang melekat karena kita tak siap menerima perbedaan? Malah sering saya berpikir, jangan-jangan yang tak normal itu saya, karena katanya saya yang ‘normal’ ini tidak mampu meraih dunia yang dimiliki anak autis? Jadi, sayalah mungkin yang terlampau ber-IQ pendek, sehingga tak mampu masuk dan meraih dunia yang dimilikinya.

Persoalan normal dan tak normal, seperti halnya gila dan tak gila. Mungkin sudah waktunya KBBI menghapus definisi normal yang seperti itu. Yang mengatakan bahwa normal adalah tanpa cacat. Lalu ukuran cacat seperti apa? Apakah yang berjalan dengan tongkat adalah tak normal? Apakah tak dapat melihat berarti tak normal? Untuk sebuah keadaan diri seseorang yang berbeda mengapa tidak kita katakan saja ‘keunikan’? Unik memang berarti berbeda dengan yang biasanya, tapi perbedaan itu yang menjadi khas dari seseorang atau sesuatu. Setiap yang memiliki khas, biasanya tak hanya jadi produk instant.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar